FILM BUDI PEKERTI SEBAGAI BENTUK “PERINGATAN” DALAM MENGGUNAKAN SOSIAL MEDIA/PLATFORM

  • 03:55 WITA
  • Administrator
  • Artikel

Opini : belakangan ini kerap diperbicangkan salah satu film indonesia dengan judul “Budi Pekerti” yang merupakan karya Wregas Bhanuteja sebagai sutradara dan penulis film yang dibintangi oleh She Ine Febriyanti, Angga Yunanda, Prilly Latuconsina, dan Dwi Sasono, hal ini tidak lain dan tidak bukan karna karya yang dibuat oleh Wregas Bhanuteja mampu mewakilkan sebagian populasi manusia khususnya di indonesia yang merasakan kekejaman sosial media, tidak hanya itu “budi pekerti” juga berhasil masuk nominasi Piala Citra Festival Film Indonesia 2023 (FFI) dalam kategori film cerita panjang terbaik dan 17 nominasi lainnya, yang sebelumnya pun telah sukses dalam karnya nya “penyalin cahaya” menceritakan kehidupan dan konflik mahasiswa yang juga sukses menarik atensi para pentonton, tentunya kita patut bangga atas karya karya anak bangsa yang mampu menghiasi sosial media indonesia dengan membawa dampak positif bagi para penikmatnya.

Di era saat ini media sosial dapat menjadi tempat paling jahat dalam mengubah situasi kehidupan seseorang yang ditampilkan di layar tak kasat mata bahkan hanya dalam hitungan beberapa detik saja, inilah yang menjadi highligt dari pesan yang ingin disampaikan hingga menarik perhatian saya pribadi ketika pertama kali menonton trailer dari film budi pekerti, banyaknya peristiwa peristiwa yang terjadi di sosial media dan tanpa disadari kita telah menjadi korban atau bahkan bagian dari pelaku bulliying karna meninggalkan komentar negatif, ber asumsi buruk, men share video atau berita yang bahkan kebenarannya pun belum konkrit dan tidak dapat kita pertanggung jawabkan, dengan kita melakukan hal tersebut yang hanya mengabiskan waktu beberapa saat saja itu bisa mengubah kondisi hidup seseorang bahkan sampai waktu yang tidak ditentukan batasnya, di saat-saat inipun para pengguna sosial media aktif dari berbagai platform yang sering kali di sebut dengan kata “netizen” tidak dapat melakukan sensor mandiri dalam membedakan kritik atapun saran, anak-anak ataupun dewasa dan lain sebagainya, semua dilakukan hanya untuk memenuhi ego sendiri melalui 2 jempol yang bergerak tanpa hati nurani itu, padahal jika kita paham atas kegunaan sosial media dan mengimplementasikannya dengan baik dan benar ini tentunya akan menjadi wadah yang sangat bermanfaat dalam menunjang kehidupan kita sehari-harinya, kemudahan dalam berkomunikasi jarak jauh, mendapatkan informasi penting, dan juga menunjang kegitan ekonomi, namun sebaliknya akan menjadi sangat jahat dan kejam jika digunakan untuk menyebar hal-hal negatif.

Tentunya ini berangkat dari keresahan pribadi, melihat sosial media saat ini yang dipenuhi dengan pemberitaaan tidak berbobot seperti konflik antar selebriti dll, yang waktu demi waktu informasi yang menjadi hak masyarakat indonesia mulai tersingkirkan karna adanya rezim media yang tidak lagi berorientasi kepada kepentingan masyarakat yang ujung berujung akan merusak mindset para pengguna sosial media itu sendiri, dibalik keresahan ini tentunya ada pengharapan yang cukup besar atas sikap dan kebijakan masing-masing pihak dalam menggunakan, mengelola, dan menikmati sosial media yang mana dampak nya ditentukan oleh masing-masing pengguna.

Sejalan dengan salah satu dari materi pembelajaran “Komunikasi Publik” yaitu : Strukturasi Media atau penyeragaman ideologi secara terstruktur / menciptakan standart tertentu yang dilakukan di media sosial, misalnya : standart kebaikan yang diciptakan sesuai dengan pelaku yang di anggap baik, sehingga ketika orang lain melakukan sesuatu yang berbeda seperti apa yang telah dilakukan oleh pelaku di anggap baik tersebut akan di anggap kurang tepat dan pada akhirnya dibanding-bandingkan hingga berujung pada bullying, contohnya : “ih kok si A ini ga pernah sedekah ya? Gak kayak si B selalu sedekah setiap bulan lihat aja di konten youtube nya padahal kan sama sama tajir, nanti hartanya ga berkah loh” ini adalah salah satu perbuatan menghakimi seseorang tanpa mengetahui kejadian sebenar-benarnya yang dimana sebagain pengguna sosial media pun dapat menjadi “judges” yang tak bertanggung jawab di waktu yang bersamaan padahal setiap orang memiliki hak atas pilihan dan cara mereka masing-masing dalam menjalani kehidupan dan memanfaatkan sosial media, bisa saja ia melakukan hal yang sama namun tidak dengan menampilkannya di sosial media dan tidak ada yang salah dalam melakukan keduanya.

Hubungan sebab akibat tentunya sangat dibutuhkan dalam melihat situasi saat ini, yang menjadi paling penting adalah banyaknya anak anak dibawah umur yang menggunakan sosial media tanpa pengawasan orang tua yang dapat menyebabkan anak tersebut bebas mengakses platform yang belum seharusnya untuk di akses, selanjutnya pengguna yang sudah cukup umur namun tidak bijak dalam dalam menyaring informasi yang didapatkan seperti membaca berita hanya dengan judul, menyimpulkan dari satu pihak dan meninggalkan komentar negatif untuk memenuhi kepuasan nafsu amarah terhadap informasi yang didaptakan, hal ini lah yang mengakibatkan sejumlah permasalahan-permasalahan di atas yang dalam penyelesaiaannya dibutuhkan kerja sama antara pemangku kebijakan, dan pengguna sosial media tentunya.

Dari opini yang telah tertulis di atas dengan harapan salah satu karya anak indonesia yaitu film “budi pekerti” yang mengangkat kisah seorang guru BK yang hidupnya berubah drastis hanya karna video 20 detik yang menghasilkan kesalahpahaman berbagai pihak hingga berdampak pada pekerjaan dan keluarga dapat menjadi lampu kuning atau pengingat dan solusi dari rangkaian permasalahan dan lebih berhati-hati dalam menggunakan dan menikmati sosial media, yang dapat di mulai dengan hal-hal kecil misalnya berhenti men-share video viral yang kebenarannya tidak konkrit walaupun hanya dalam lingkup sosial media pribadi, grub keluarga, sahabat, kerabat, atau mutualan lainnya yang mana ini dapat membuka percakapan yang ujung berujung menimbulan kata yang bersifat “bullying” dengan hal ini kita dapat lebih bijaksana dan mebudayakan sensor mandiri dalam menggunakan sosial media