Gowa - Civitas akademika Program Studi Sejarah Peradaban Islam (SPI) Fakultas Adab dan Humaniora UIN Alauddin Makassar kembali mencatatkan capaian akademik melalui pengukuhan Dr. Hj. Susmihara, M.Pd. sebagai Guru Besar Tetap dalam bidang/ranting kepakaran Pendidikan Islam Budaya Nusantara. Pengukuhan tersebut berlangsung dalam Sidang Senat Terbuka Luar Biasa UIN Alauddin Makassar pada Selasa, 29 September 2026.
Dr. Hj. Susmihara merupakan dosen pada Program Studi Sejarah Peradaban Islam (SPI), Fakultas Adab dan Humaniora UIN Alauddin Makassar. Pengukuhan Guru Besar ini menjadi bagian penting dalam perjalanan akademik beliau sekaligus menambah kekuatan sumber daya akademik di lingkungan Fakultas Adab dan Humaniora, khususnya dalam pengembangan kajian pendidikan, Islam, budaya, dan kearifan lokal Nusantara.
Momentum pengukuhan tersebut ditandai dengan penyampaian pidato ilmiah berjudul “Ketika Kecerdasan Kehilangan Kemanusiaan: Rekonstruksi Paradigma Pendidikan Karakter Berbasis Budaya dan Spiritualitas.” Dalam pidatonya, Dr. Hj. Susmihara mengangkat persoalan pendidikan karakter di tengah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berlangsung sangat cepat.
Menurut gagasan yang dikemukakan dalam pidato ilmiahnya, perkembangan teknologi, kecerdasan buatan, big data, bioteknologi, serta transformasi digital telah membawa perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan. Namun, perkembangan tersebut juga menghadirkan tantangan ketika kemajuan intelektual tidak selalu berjalan beriringan dengan kematangan moral, empati, solidaritas, dan tanggung jawab sosial.
Melalui pidatonya, Dr. Hj. Susmihara menyoroti pentingnya mengembalikan pendidikan kepada hakikatnya sebagai proses memanusiakan manusia. Pendidikan, menurut konstruksi pemikiran yang disampaikan, tidak cukup diarahkan pada pengembangan kecerdasan intelektual, tetapi juga perlu memperhatikan kecerdasan emosional, spiritual, budaya, dan moral.
Salah satu gagasan utama yang dikembangkan dalam pidato tersebut adalah pentingnya menjadikan kearifan lokal sebagai sumber nilai dalam pendidikan karakter. Dalam konteks masyarakat Bugis, Dr. Hj. Susmihara mengangkat sejumlah nilai seperti siri', pesse, dan were sebagai bagian dari warisan budaya yang memiliki relevansi dengan pembentukan karakter. Nilai-nilai tersebut dipandang tidak hanya sebagai warisan masa lalu, tetapi juga sebagai sumber etika yang dapat dikembangkan dalam menghadapi persoalan pendidikan dan kehidupan sosial pada masa kini.
Dalam pidatonya, ia juga menekankan pentingnya integrasi antara kecerdasan dan moralitas. Konsep seperti macca na malempu, warani na magetteng menunjukkan bahwa kecerdasan idealnya berjalan bersama kejujuran, keberanian moral, dan keteguhan prinsip. Sementara itu, nilai pesse dipaparkan sebagai dasar empati dan solidaritas sosial yang dapat diwujudkan melalui prinsip sipakatau, sipakalebbi, dan sipakainge.
Gagasan tersebut kemudian dikembangkan ke dalam konsep pendidikan karakter yang lebih holistik. Dalam pidatonya, Dr. Hj. Susmihara menawarkan lima dimensi kecerdasan yang perlu memperoleh perhatian dalam pendidikan, yaitu kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, kecerdasan spiritual, kecerdasan budaya, dan kecerdasan moral. Kelima dimensi tersebut dipandang dapat menjadi dasar untuk membangun manusia yang tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga memiliki integritas, empati, tanggung jawab, serta kesadaran terhadap nilai budaya dan spiritual.
Pengukuhan ini juga memiliki makna penting bagi Program Studi Sejarah Peradaban Islam karena kajian yang dikembangkan dalam pidato ilmiah tersebut mempertemukan aspek pendidikan, sejarah, budaya, Islam, dan kearifan lokal. Hal ini sejalan dengan karakter keilmuan SPI yang tidak hanya mempelajari perjalanan sejarah peradaban Islam, tetapi juga mengkaji nilai, tradisi, dan kebudayaan masyarakat sebagai bagian dari dinamika peradaban.
Dalam bagian penutup pidatonya, Dr. Hj. Susmihara menegaskan bahwa pendidikan karakter bukan sekadar program jangka pendek melalui perubahan kurikulum atau penambahan mata pelajaran. Pendidikan karakter dipandang sebagai bagian dari proses pembentukan manusia Indonesia yang utuh. Sekolah dan perguruan tinggi, dalam kerangka tersebut, tidak hanya menjadi pusat transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga ruang untuk menginternalisasikan nilai melalui pembelajaran, pembiasaan, dan keteladanan.
Capaian akademik Dr. Hj. Susmihara ini mendapat apresiasi dari civitas akademika Program Studi Sejarah Peradaban Islam. Pengukuhan sebagai Guru Besar diharapkan semakin memperkuat kontribusi dosen SPI dalam pengembangan ilmu pengetahuan, penelitian, pendidikan, serta pengabdian kepada masyarakat, khususnya dalam kajian sejarah, Islam, budaya Nusantara, dan pendidikan karakter.
Program Studi Sejarah Peradaban Islam Fakultas Adab dan Humaniora UIN Alauddin Makassar mengucapkan selamat dan sukses kepada Dr. Hj. Susmihara, M.Pd. atas pengukuhan sebagai Guru Besar Tetap dalam bidang Pendidikan Islam Budaya Nusantara. Semoga amanah akademik tersebut semakin memperkuat dedikasi beliau dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan memberikan kontribusi bagi kemajuan pendidikan serta peradaban bangsa.