Gowa – Dosen Program Studi Sejarah Peradaban Islam (SPI), Fakultas Adab dan Humaniora UIN Alauddin Makassar berpartisipasi dalam Webinar Nasional yang diselenggarakan oleh Asosiasi Program Studi Sejarah Islam se-Indonesia (APSII) pada Senin, 20 Juli 2026 secara daring melalui platform Zoom Meeting. Webinar yang mengusung tema “Jaringan Spiritual, Intelektual, dan Politik Jalur Rempah Nusantara Pra Abad 20” tersebut menjadi forum akademik yang mempertemukan dosen, peneliti, dan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia untuk mendiskusikan perkembangan terbaru kajian sejarah Islam Nusantara.
Partisipasi dosen SPI dalam kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen Program Studi Sejarah Peradaban Islam UIN Alauddin Makassar dalam meningkatkan budaya akademik sekaligus memperluas jejaring keilmuan di tingkat nasional. Melalui forum yang diselenggarakan APSII tersebut, para dosen memperoleh kesempatan untuk mengikuti pemaparan para pakar sejarah Islam sekaligus bertukar gagasan mengenai isu-isu strategis dalam pengembangan studi sejarah maritim dan jalur rempah di Nusantara.
Webinar dibuka oleh panitia APSII dan menghadirkan tiga narasumber yang memiliki kompetensi dalam bidang sejarah Islam dan sejarah Nusantara, yaitu Dr. Ahmad Suaedy, M.A.Hum., Dekan Fakultas Islam Nusantara UNUSIA; Dr. Anwar Sanusi, S.Hum., Dekan Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon; serta Ahmad Abas Musofa, Ketua Umum Asosiasi Program Studi Sejarah Islam se-Indonesia (APSII).
Mengangkat tema besar mengenai jaringan spiritual, intelektual, dan politik jalur rempah sebelum abad ke-20, webinar ini membahas bagaimana jalur perdagangan rempah tidak hanya menjadi media pertukaran komoditas ekonomi, tetapi juga berfungsi sebagai ruang pertemuan berbagai peradaban yang mendorong penyebaran agama Islam, perkembangan intelektual, serta terbentuknya relasi politik antarkerajaan di kawasan Nusantara.
Dalam paparannya, Dr. Ahmad Suaedy, M.A.Hum. menjelaskan bahwa sejarah jalur rempah perlu dipahami secara lebih luas, tidak semata sebagai sejarah perdagangan, tetapi juga sebagai sejarah perjumpaan budaya, agama, dan peradaban. Menurutnya, jaringan rempah menjadi medium penting yang mempertemukan masyarakat Nusantara dengan berbagai komunitas dari Timur Tengah, Asia Selatan, maupun kawasan Asia Tenggara sehingga melahirkan proses akulturasi yang membentuk karakter Islam Nusantara.
Sementara itu, Dr. Anwar Sanusi, S.Hum. mengulas perkembangan jaringan intelektual Islam yang tumbuh melalui mobilitas ulama, santri, pedagang, dan pelajar pada masa lampau. Ia menegaskan bahwa hubungan antarpusat keilmuan Islam tidak dapat dilepaskan dari aktivitas pelayaran dan perdagangan yang berkembang di sepanjang jalur rempah. Melalui jaringan tersebut, berbagai pemikiran keagamaan, tradisi keilmuan, hingga manuskrip Islam tersebar ke berbagai wilayah Nusantara dan memberikan kontribusi besar terhadap perkembangan pendidikan Islam.
Adapun Ahmad Abas Musofa menekankan pentingnya penguatan kajian sejarah Islam berbasis sumber-sumber lokal. Ia mengajak seluruh program studi yang tergabung dalam APSII untuk terus memperluas penelitian mengenai sejarah jalur rempah dengan memanfaatkan manuskrip, arsip, tradisi lisan, maupun tinggalan budaya yang masih dapat ditemukan di berbagai daerah di Indonesia. Menurutnya, penelitian sejarah yang kolaboratif akan menghasilkan rekonstruksi sejarah yang lebih komprehensif sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pusat peradaban maritim dunia.
Bagi dosen Program Studi Sejarah Peradaban Islam UIN Alauddin Makassar, webinar ini memberikan wawasan baru mengenai pendekatan interdisipliner dalam mengkaji sejarah Islam Nusantara. Kajian jalur rempah tidak hanya dipandang dari aspek ekonomi, tetapi juga dikaitkan dengan dinamika sosial, politik, budaya, dan penyebaran Islam yang berlangsung selama berabad-abad. Perspektif tersebut dinilai relevan untuk dikembangkan dalam proses pembelajaran, penelitian, maupun pengabdian kepada masyarakat.
Selain memperkaya pemahaman akademik, keikutsertaan dosen SPI dalam webinar nasional ini juga menjadi bagian dari upaya memperkuat jejaring kerja sama dengan sesama akademisi yang tergabung dalam APSII. Forum semacam ini membuka peluang kolaborasi dalam bidang penelitian bersama, publikasi ilmiah, seminar nasional, hingga pengembangan kurikulum yang sesuai dengan perkembangan kajian sejarah Islam kontemporer.
Kehadiran dosen SPI pada webinar nasional tersebut sekaligus mencerminkan komitmen Program Studi Sejarah Peradaban Islam UIN Alauddin Makassar dalam mendukung peningkatan kompetensi dosen melalui partisipasi aktif pada berbagai forum ilmiah nasional. Penguatan kapasitas akademik dosen diharapkan berdampak langsung terhadap peningkatan kualitas pembelajaran serta menghasilkan lulusan yang memiliki wawasan sejarah Islam yang lebih luas, kritis, dan kontekstual.
Melalui keterlibatan aktif dalam kegiatan APSII, Program Studi Sejarah Peradaban Islam terus mempertegas perannya sebagai bagian dari komunitas akademik nasional yang berkomitmen mengembangkan kajian sejarah Islam Indonesia. Dengan semangat kolaborasi dan penguatan budaya ilmiah, Prodi SPI UIN Alauddin Makassar diharapkan semakin berkontribusi dalam menghasilkan penelitian dan pemikiran yang memperkaya khazanah historiografi Islam Nusantara sekaligus memperkuat eksistensi program studi di tingkat nasional.